Persuasif MAPAN— Sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar meriah di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Rabu, 12 Agustus 2026. Bukan sekadar merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, para siswa juga diajak menumbuhkan rasa cinta, kebersamaan, dan kepedulian melalui semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Kegiatan bertajuk “Semarak HUT RI Ke-81 Lomba Antarkelas” yang digelar 12–13 Agustus 2026 tersebut diprakarsai oleh OSIM MAN Pangkep. Beragam lomba menjadi warna perayaan, mulai dari devile, fashion show, kebersihan dan kreasi kelas Merah Putih, permainan tradisional asing-asing, hingga jump suit.

Di balik riuhnya persaingan antarkelas, ada wajah lain yang terasa lebih kuat: persahabatan. Siswa yang sebelumnya sibuk dengan keseriusan perlombaan, kembali saling memberi semangat setelah pertandingan usai. Kemenangan menjadi kebanggaan, tetapi kebersamaan menjadi kenangan yang jauh lebih berharga.
Semangat Kompetisi, Bukan Sekadar Menang
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus belajar menghargai perbedaan. Setiap kelas berusaha tampil terbaik, namun tetap membawa semangat sportivitas dan persaudaraan.
Kepala MAN Pangkep Abdul Hafid dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Menurutnya, nilai-nilai kemerdekaan perlu dihidupkan dalam keseharian siswa melalui sikap saling menghargai, bekerja sama, dan mencintai tanah air.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin anak-anak tidak hanya belajar menjadi juara, tetapi juga belajar menghargai teman, menerima perbedaan, bekerja sama, dan menjaga persaudaraan. Inilah semangat Kurikulum Berbasis Cinta yang perlu kita tumbuhkan di madrasah,” ujar Kepala MAN Pangkep.
Ia berharap kegiatan semarak kemerdekaan dapat menjadi pengalaman bermakna bagi peserta didik.
“Saya berharap dari kegiatan sederhana seperti lomba antarkelas ini lahir generasi yang percaya diri, kreatif, berkarakter, mencintai Indonesia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Semangat kemerdekaan harus tumbuh bersama cinta,” harapnya.
KBC Hadir dalam Keceriaan Siswa
Bagi peserta, kegiatan tersebut bukan hanya tentang membawa pulang piala. Proses mempersiapkan penampilan, menghias kelas, berlatih bersama, hingga memberi dukungan kepada teman menjadi pengalaman yang mempererat kebersamaan.
Salah seorang peserta mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.
“Kami senang karena bisa berkumpul dan bekerja sama dengan teman-teman. Awalnya kami ingin menang, tetapi selama persiapan kami belajar bahwa kekompakan dan saling mendukung jauh lebih penting,” ungkapnya.

Peserta lainnya berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bakat sekaligus membangun rasa percaya diri.
“Semoga kegiatan seperti ini terus ada. Kami bisa belajar sportivitas, mengenal permainan tradisional, dan semakin kompak dengan teman-teman dari kelas lain,” tuturnya.
Dari Kelas, Untuk Indonesia
Semangat KBC tampak dalam cara siswa memaknai perlombaan. Cinta kepada sesama diwujudkan melalui kerja sama, cinta kepada madrasah melalui kepedulian menjaga kebersihan kelas, sementara cinta kepada Indonesia hadir melalui penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dan pelestarian permainan tradisional.
Sementara itu, Syaril ketua OSIM MAN Pangkep menyampaikan bahwa lomba antarkelas dirancang agar perayaan HUT RI berlangsung meriah sekaligus edukatif.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas dan bakat. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh peserta dapat menikmati kegiatan dengan sportif, saling menghargai, dan tetap menjaga persaudaraan,” ujarnya.

Dua hari perayaan itu akhirnya bukan hanya meninggalkan catatan tentang siapa yang menjadi juara. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih sederhana, tetapi bermakna: tawa, kekompakan, keberanian tampil, dan rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Sebab di MAN Pangkep, kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengangkat bendera. Ia dirayakan melalui hati yang belajar mencintai, tangan yang mau bekerja sama, dan generasi muda yang tumbuh dengan semangat menjaga persatuan.
Dari sorak lomba, tumbuh cinta Indonesia. Dari kebersamaan, tumbuh karakter. Dan dari madrasah, lahir generasi hebat yang membawa semangat Kurikulum Berbasis Cinta.(Iko)